Kali ini Saya meneruskan Artikel tentang sejarah kota jogja part 3 setelah sebelumnya saya posting tentang sejarah kota jogja part 1 dan sejarah kota jogja part 2. Pada kali ini saya akan menulis sampai akhir pembangunan Keraton Jogja.
Pada tahun 1703 Amangkurat III-Sunan Mas memindahkan Kotaraja ke Kartasura (1703-1704). Pada masa pemerintahannya Sunan Paku Buwana I (P Puger, 1704-1719) bermaksud melanjutkan cita-cita Amangkurat I membangun kembali calon kraton Garjitawati dan akan dinamakannya Ngayogyakarta.
Namun sebelum niat itu terlaksana, PB I wafat, digantikan Amangkurat IV (1719-1727). Penggantinya, Paku Buwana II memindahkan keraton Kartasura ke Surakarta (1745-1749) setelah Pemberontakan Pacina ditumpas Kawasan alas Paberingan dibangun menjadi Kadipaten Mataram di bawah T Jayawinata. Pada tahun 1746 P Mangkubumi diberi mandat PB II untuk meneruskan keberadaan keraton Jawa sebab Surakarta akan menjadi milik Kumpeni sesuai Perjanjian Panaraga.
Pada tahun ketiga Pemberontakan Mangkubumen, dalam suatu pertempuran melawan pasukan gabungan Surakarta-Kumpeni, P Mangkubumi terdesak hingga lereng Gunung Merapi, namun atas kegigihan senapati andalannya, T Rangga Wirasetika, akhirnya dapat merebut Kadipaten Mataram. T Jayawinata takluk dan menjadi pengikutnya. P Mangkubumi tinggal beberapa lama di Kadipaten itu, dan ketika diserang oleh pasukan Surakarta-Kumpeni, sebelum meninggalkan Mataram seluruh kadipaten seisinya dihan-curkan terlebih dahulu agar tidak dimanfaatkan oleh kekuasaan Surakarta-Kumpeni Cita-cita Paku Buwana I itu akhirnya bisa diwujudkan oleh P Mangkubumi (Sultan Hamengku Buwana I) pada tahun 1756, setahun setelah Perjanjian Giyanti ditandatangani (1755).
Oleh Pangeran Mangkubumi (Sultan Hamengku Buwana I), Alas Paberingan dibangun secara bertahap menjadi kompleks keraton dan dinamakannya Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat (selesai pada tahun 1757), lengkap dengan segala taman-tamannya seperti Taman Sari (selesai pada tahun (1758), pada tahun 1764 dibangun Kali Larangan untuk mengisi Segaran dengan Pulau Kenanga di tengahnya yang dinamakan Yasa Kambang (dibangun pada tahun 1767) yang di arsiteki oleh Tumenggung Mangundipura, dan Panggung Krayak (dibangun pada tahun 1782) di luar benteng keraton seperti yang kita saksikan sekarang.
Situs pusat keraton Mataram II yang pertama terletak di Ngeksigondo juga masih dapat kita saksikan sisa-sisa bangunan terbuat dari bata dan nama-nama kawasan yang hingga kini tetap digunakan seperti Banguntapan, Kanoman, Gedong Kuning, Gedong Kiwa, Gedong Tengen, bekas Pemandian Warungbata, Winong, Sar Gedhe (jadi Kota Gede), Kompleks Makam Senopaten dan sebagainya yang tersebar sejak 1 kilometer sebelah utara hingga selatan Kota Gede
Kata Yogyakarta sendiri merupakan pergeseran lafal (pengucapan) dari kata bahasa Jawa Ngayogyakarta, bentukan dari dua kata ngayogya dan karta. Kata ngayogya dari kata dasar yogya artinya pantas, baik. Ngayogya artinya menuju cita-cita yang baik dan karta artinya aman, sejahtera. Ngayogyakarta artinya mencapai kesejahteraan (bagi negeri dan rakyatnya).
Popularity: 10% [?]

Posted in
Tags: 
